Muara Enim (Kemenag Sumsel)
Sebagai langkah konkret mengonversi pemahaman teoretis matematika ke dalam pengalaman taktil, siswa Kelas 2C MIN 2 Muara Enim memanfaatkan kertas karton dan kertas origami bekas untuk merancang model geometri bangun datar berdimensi tiga, Rabu 28/10/2026.
Praktik pembelajaran berbasis proyek ini dirancang untuk mendobrak metode ceramah konvensional. Melalui peragaan langsung, para siswa ditantang mentransformasikan lembaran kertas datar menjadi kerangka bangun ruang yang merepresentasikan konsep sisi, rusuk, dan titik sudut secara akurat.
Wali Kelas 2C MIN 2 Muara Enim, Susilawati, menjelaskan bahwa pendekatan manipulatif ini krusial untuk membangun fondasi berpikir spasial anak sejak usia dini, jauh sebelum mereka menghadapi rumus abstrak di jenjang pendidikan lebih tinggi.
“Matematika sering kali dianggap momok karena anak-anak hanya diminta menghafal rumus di atas papan tulis. Melalui praktik langsung membuat model 3D dari kertas ini, siswa secara motorik dapat meraba, melipat, dan membuktikan sendiri jumlah sisi serta sudut pada setiap bangun datar. Ini membuat pemahaman konsep mereka jauh lebih kokoh dan permanen,” ujar Susilawati.
Ia menambahkan, pemilihan material kertas karton dan origami tidak hanya menekankan efisiensi biaya, tetapi juga menjadi sarana edukasi dini mengenai pengelolaan limbah kertas agar bermutasi menjadi alat peraga edukatif yang fungsional.
Di tempat terpisah, Kepala MIN 2 Muara Enim, Aidawati, memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi pembelajaran kolaboratif yang digerakkan oleh para pendidik di madrasahnya. Menurutnya, mutu pendidikan madrasah harus diukur dari seberapa efektif ruang kelas melahirkan daya nalar kritis dan keterampilan pemecahan masalah pada diri siswa.
“Kami terus mendorong para guru untuk meninggalkan pola pembelajaran yang bersifat seremonial atau sekadar menggugurkan kurikulum. Pembelajaran harus berorientasi pada dampak nyata bagaimana teori di dalam kelas benar-benar terinternalisasi menjadi kecakapan hidup dan penguatan literasi numerasi dasar anak-anak kita,” tegas Aidawati.
Melalui penerapan model pembelajaran aktif seperti ini, MIN 2 Muara Enim konsisten membuktikan bahwa madrasah ibtidaiyah mampu mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga terampil secara motorik dan peka terhadap lingkungan belajar di sekitarnya. (Humas MIN 2 Muara Enim)
