MIN2MENIM.SCH.ID Berita Membangun Akhlakul Karimah bersama Ilmu

Membangun Akhlakul Karimah bersama Ilmu

Muara Enim, Humas

Pembiasaan yang diajarkan sedari dini, akan menjadi kebiasaan untuk setiap harinya nanti.
Hal hal positif yang masuk ke dalam diri akan menjadi darah daging. Pendidikan selain mencari ilmu, tetapi juga memperbaiki adab dan membentuk akhlak, kepribadian seseorang. Kegiatan ini bertempat di ruang kelas IV.D di bimbing oleh Fenny Anggraini,S.Pd. selaku guru kelas. Senin, (12/1)

Adab merupakan nilai kemulian seseorang yang diperoleh melalui proses pendidikan dan belajar. Sedangkan Akhlak merupakan sebutan bagi umat muslim yang memperoleh kemuliaan melalui proses ibadah kepada Allah SWT seperti meninggalkan sesuatu yang tidak baik/dilarang Allah, giat melakukan hal baik yang disukai Allah SWT. Seperti halnya menuntut ilmu merupakan salah satu bentuk ibadah.

Dikarenakan waktu azan sekarang cukup lama dari biasanya, istirahat yang singkat. Dalam menunggu azan setelah istirahat, guru memanfaatkan waktu tersebut dengan berbagai kegiatan-kegiatan positif. Peserta didik diberi jadwal untuk azan, imam, doa bagi laki-laki. Kemudian, semuanya diberi kesempatan untuk ceramah/pidato islami.

Selain itu ada kegiatan Guru membimbing dan mengarahkan. Selain itu ada kegiatan sholawat, lagu lagu islami lainnya dan pembacaan surat pendek. Hal tersebut diharapkan dapat membangun tauhid kepada Allah SWT dan cinta terhadap Rasullah SAW, cinta terhadap Kallamullah, serta memberikan siraman rohani agar peserta didik memahami, menyadari dan menjadi terarah dalam menemukan jati diri dan hal-hal baik dari diri sendiri, serta mampu memilah hal hal positif atau negatif untuk diri mereka sendiri.
Fenny Anggraini,S.Pd selaku guru kelas IV.D berpesan kepada peserta didik bahwasaynya Ilmu tidak akan masuk pada hati, pikiran dan mulut yang kotor.
”Imam Syafi’i memiliki hati yang bersih. Matanya tidak pernah melihat maksiat dan telinga hanya mendengar yang baik-baik saja. Sehingga setiap kebaikan yang dia dengar, langsung bisa dihafal,” ungkapnya

Fenny juga menambahkan bahwa suatu ketika Imam Syafi’i mengadu kepada gurunya Waki’ perihal hafalannya yang melambat. Itu diabadikan dalam sebuah syair yang sangat terkenal. Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukkan padaku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).
”Saya berharap melalui kegiatan ini peserta didik akan memperoleh pembekalan batin serta pembiasaan akan membentuk pondasi kuat peserta didik untuk menjadi manusia yang beradab, berakhlakul karimah bersama ilmu,” tambah Fenny. (yn)

30 Likes

Author: admin23

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *